Berita

  • 18 Feb 2020
  • Harian Bisnis Indonesia

Pajak Bisa Bikin Resesi

Bisnis, JAKARTA — Ekono- mi Jepang dihantui kemungkinan resesi akibat kenaikan pajak penjualan pada kuartal IV/2019. Produk domestik bruto Jepang menyusut 6,3% secara tahunan dari kuartal sebelumnya, penurunan terbesar sejak kenaikan pajak 2014.

Pemerintahan Perdana Menteri Shinzo Abe dan Bank of Japan memperkirakan dampak yang lebih kecil dari kenaikan pajak dibandingkan dengan pengalaman pada 2014. Ketika itu, kebijakan tersebut melemahkan ekonomi lebih dari 7%.

Adapun ekonom sebelumnya memperkirakan penurunan PDB sebesar 3,8%, sebagai dampak negatif kenaikan pajak, pelemahan permintaan global, dan gangguan angin topan. Hasil yang meleset lebih buruk menunjukkan langkah-langkah pemerintah untuk meredam pukulan kenaikan pajak tidak manjur.

“Tidak ada faktor positif apa pun untuk membangun perkiraan pertumbuhan yang positif,” kata Kepala Ekonom Pasar di Daiwa Securities Co., Mari Iwashita, dilansir Bloomberg, Senin (17/2).

Para ekonom berpendapat, langkah pemerintah seperti memberikan potongan harga untuk transaksi nontunai berdampak terbatas, karena tidak menarik bagi segmen populasi lanjut usia yang tidak terbiasa dengan platform pembayaran online.

Menurut Takashi Shiono, ekonom di Credit Suisse Group AG, angka-angka menunjukkan kerentanan konsumsi domestik terhadap kenaikan pajak penjualan. Data terbaru menunjukkan konsumsi swasta anjlok 11% per tahun pada kuartal tersebut, karena rumah tangga memangkas pembelian mobil, kosmetik, dan kebutuhan lain. Pada 2014 terjadi penurunan 18%.

Sementara itu, kesepakatan perdagangan awal antara Amerika Serikat dan China seharusnya membawa pengaruh positif untuk investasi kuartal ini. Namun, wabah virus corona yang tak terduga membuat kehati-hatian pengusaha meningkat.

“Kepedulian terhadap virus baru saja meningkat dan mood menahan diri akan menyebar lebih luas. Saya melihat ekonomi Jepang akan suram,” kata Shiono.

Wabah virus ini telah menghentikan kunjungan ratusan ribu turis dari China pada awal tahun Olimpiade Jepang, menghantam sumber pendapatan yang penting. Semakin lama, wabah mengganggu produksi dan permintaan domestik pada mitra dagang terbesar Jepang.

Menteri Ekonomi Yasutoshi Nishimura mengatakan pihaknya akan terus memperhatikan dampak virus pada pariwisata dan ekonomi yang lebih luas.


  • 18 Feb 2020
  • Harian Bisnis Indonesia